“Apalagi kalau full day, dan tidak ada snack sehat di sekolah, sulit untuk mendapatkan makanan sehat. Sementara di negara lain, buah-buahan ada di sekolah,” ujarnya.
Aman menyoroti prevalensi munculnya diabetes pada anak. Dia mendukung penerapan cukai pada minuman manis, sebagai salah satu langkah agar masyarakat, terutama anak-anak, tidak kecanduan.
“Diabetes pada anak, banyak disebabkan oleh kandungan gula yang berlebih dalam makanan atau minuman berpemanis. Industri sekarang ini harus jujur, dalam arti memastikan kandungan gula. Walaupun jus yang katanya tanpa gula, ternyata ini juga ada kandungannya,” tegas Aman.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD mengungkapkan adanya peningkatan dan pergeseran pasien diabetes, yang kini menyasar generasi di bawah umur 40 tahun.
“Kalau dulu pengidap diabetes berumur di atas 50 tahun, kini sudah bergeser mulai di bawah usia 40 tahun. Ada 5 persen yang saya tangani itu. Sebelumnya sangat jarang,” ujar Ketut.
Pergeseran pola usia pengidap diabetes ini, imbuh Ketut, perlu langkah diantisipasi sejak usia dini. Ketut khawatir, pola konsumsi gula berlebih memicu diabetes tipe 2 sejak usia muda.
Pengobatan diabetes dan penyakit turunannya tergolong relatif mahal. Ketua Tim Kerja Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Kemenkes, Esti Widiastuti mencatat, peningkatan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia diakibatkan diabetes dan sejumlah penyakit turunannya.
“Pada 2021, biaya JKN tertinggi disebabkan oleh gangguan jantung dengan Rp8,7 triliun, kanker Rp3,5 triliun, stroke Rp2,2 triliun, dan gagal ginjal Rp 1,8 triliun,” tandas Esti. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






