Apa yang luar biasa, kata para analis, adalah bahwa Jokowi berhasil tetap populer meskipun ada kritik yang menunjukkan adanya tren kemunduran demokrasi, termasuk melemahnya lembaga-lembaga negara.
Hakim MK Saldi Isra, salah satu dari empat hakim yang berbeda pendapat dari sembilan hakim yang mengeluarkan putusan hari Senin, mengatakan ia gelisah dengan sikap yang tampak kontradiktif yang diambil rekan-rekannya, yang sebelumnya menolak petisi serupa.
“Ini pertama kalinya saya menemukan kejadian yang luar biasa aneh, yang bisa disebut di luar batas nalar yang wajar,” ujarnya.
Pemilu di Indonesia seringkali diwarnai kehebohan, dan selalu diikuti dengan perselisihan, yang permohonannya diajukan ke MK.
“Putusan MK telah menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap peradilan yang independen dan perselisihan politik apa pun di masa depan akan dengan mudah memecah belah negara,” kata Goenawan dari Tempo.
The Jakarta Post menulis dalam tajuknya: “We must raise a red flag over the probity of the upcoming election. The game appears rigged to give certain players the upper hand. ” Harian berbahasa Inggris terkemuka di Indonesia itu mengingatkan, keputusan MK membuat banyak pihak mempertanyakan kejujuran pemilu mendatang atau berpendapat bahwa pemilu mendatang tampaknya direkayasa untuk memberikan keunggulan kepada pihak tertentu. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






