Sementara itu pengamat Transportasi Darmaningtyas yang juga ikut menghadiri peresmian pengoperasian “Whoosh” ini mengatakan kereta cepat ini akan cukup memupus pesimisme masyarakat terhadap moda transportasi massal.
Dengan efisiensi waktu, ia yakin akan semakin banyak masyarakat beralih menggunakan “Whoosh”. Dari segi harga, ia beranggapan kisarannya masih cukup terjangkau oleh masyarakat.
“Kalau kita belajar dari operasional KA Argo Parahyangan yang sekarang dinaikkan sudah Rp250.000 dan penumpangnya saat weekend sangat penuh, berarti kalau tarif Rp200.000-Rp300.000 itu masih terjangkau karena efisiensi waktunya besar. Jadi kalau kemarin-kemarin keluarga yang biasa bermobil ke Bandung, mungkin nanti akan memilih naik kereta kereta cepat karena dalam waktu sehari mereka bisa PP (pulang-pergi), kalau naik mobil mereka mungkin harus menginap di Bandung dan sebagainya,” ungkapnya kepada VOA.
Darmaningtyas berpesan kepada pemerintah agar senantiasa memperluas integrasi moda transportasi lainnya dengan kereta cepat yang berkecepatan 350 km per jam ini, sehingga akan semakin menarik di mata masyarakat.
Ia pun berharap ke depan, apabila memang pemerintah memutuskan akan memperpanjang rute kereta cepat hingga ke Surabaya, biayanya tidak lagi diambil dari anggaran negara. Menurutnya, jika hal tersebut terulang kembali akan semakin memperlebar kesenjangan moda transportasi massal antara Jawa dan luar Jawa.
“Kalau secara logika memang bagus kalau sampai Surabaya, tetapi kalau pakai dana APBN menurut saya tidak bijak. Karena apa? Indonesia bukan hanya Jawa. Jadi harus dipikirkan juga bagaimana membangun kereta api di Kalimantan, Papua, karena mereka juga ingin naik kereta. Jadi kalau bussines to bussiness, tidak apa-apa. Tetapi kalau itu dibebankan kepada APBN sepenuhnya saya keberatan, karena soal ketidakseimbangan antara Jawa dan luar Jawa,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






