Kerusuhan Batam Harus Bersih dari Provokasi SARA

  • Whatsapp

KABAR bentrok fisik dua kelompok massa yang menimbulkan satu korban tewas dan sepuluh luka-luka di Hotel Planet Holiday di Jodoh, Batam, Kepulauan Riau pada Senin (18/6) sore dalam sekejap menyebar melalui situs berita online dan media lokal.

Informasi yang berkembang simpang siur dan banyak yang mengaitkan dengan kerusuhan antarsuku yang bernuansa SARA. Batam sebagai kota industri menjadi pusat perhatian seketika setelah terjadinya sebuah kerusuhan, terutama dari kalangan pengusaha dan investor yang khawatir dengan kondisi Batam yang tidak kondusif.

Bentrok fisik antara dua kelompok massa yang dikabarkan berkaitan dengan sengketa lahan di Batu Merah, Batuampar itu mendapat perhatian serius dari Polda Kepulauan Riau.

Kapolda Kepri Brigjen Yotje Mende seperti dikutip kepri.antaranews.com mewanti-wanti bahwa kerusuhan tersebut murni dilatarbelakangi dua kelompok massa yang terlibat bentrok, yaitu kelompok Toni yang melakukan penyerangan dengan kelompok Basri yang menjaga Hotel Planet Holiday Batam.

Kapolda menegaskan dan mengingatkan bahwa kerusuhan tersebut tidak dikait-kaitkan dengan isu suku yang rentan meluasnya kerusuhan mengingat Batam merupakan kota dengan berpenduduk heterogen.

“Kerusuhan ini tidak ada kaitannya dengan suku,” demikian dikatakan Kapolda.

Polisi kata dia bertindak cepat dengan mengamankan area Hotel Planet Holiday Batam yang kacanya pecah dan berserakan akibat kerusuhan tersebut.

Sebanyak 28 orang dari kelompok Basri diperiksa, sementara itu satu orang atas nama Johan Sihombing (28) akibat luka parah pada kepala, punggung bahkan jari tangan kanannya putus akibat sabetan senjata tajam.

Selain itu, sepuluh orang luka-luka dan masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Batam.

Situasi sekitar Hotel Planet Holiday kondusif dengan pengawalan ketat polisi. Polisi juga mengamankan sejumlah panah dan senjata tajam serta mencari para pelaku bentrok untuk menghindari bentrokan susulan.

Imbauan Kapolda diharapkan meredam reaksi warga Batam yang berbilang suku demi menjaga iklim investasi yang kondusif di kota yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia itu. (rdi)

Pos terkait