Poso, JurnalTerkini.id – Dijuluki sebagai Mutiara di Bibir Pasifik, Pulau Morotai di Maluku Utara memiliki kaitan sejarah yang kuat dengan Perang Dunia ke-2. Kini, makam-makam peninggalan perang antara pasukan sekutu dan pasukan Jepang pada tahun 1944 itu menjadi aset wisata Pemerintah setempat.
Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA), badan pemerintah AS urusan tentara yang pernah menjadi tahanan perang dan hilang dalam tugas, sebelumnya bulan ini menandatangani kesepakatan kerangka kerja (framework arrangement) dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan riset dan survei bersama pencarian warga AS yang hilang di Indonesia saat Perang Dunia Ke-2. Misi tersebut merupakan riset dan survei bersama yang pertama dan diharapkan akan dimulai pada akhir tahun ini.
DPAA adalah badan di bawah Departemen Pertahanan AS yang bertugas membawa pulang tentara AS yang menjadi tahanan perang atau yang hilang saat bertugas.
Menurut Wikipedia, pertempuran Morotai terjadi pada tanggal 15 September 1944 pada akhir perang dunia ke-2. Pertempuran itu dimulai ketika pasukan Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya. Basis di Morotai dibutuhkan untuk membebaskan Filipina.
Hingga kini, sisa-sisa peninggalan pertempuran antara pasukan sekutu dan pasukan Jepang yang terjadi di Pulau Morotai, seperti makam dan peralatan perang masih ditemukan. Beberapa di antaranya bahkan telah menjadi koleksi Museum Swadaya Perang Dunia ke-2 “Hilang Nampak Kembali” di desa Joubela, Kecamatan Morotai Selatan.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Pulau Morotai, Maluku Utara, terdapat dua lokasi yang diyakini sebagai kawasan makam tentara sekutu, dari Amerika dan Australia yang gugur dalam perang itu, yakni desa Juanga dan desa Pandanga di wilayah kecamatan Morotai Selatan.






