“323 juta orang di tahun 2022 ini, menurut World Food Programme (WFP), , terancam menghadapi kerawanan pangan akut. G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar untuk atasi krisis pangan ini. Mari kita tunaikan tanggung jawab kita, sekarang, dan mulai saat ini,” tegas Jokowi.
Ia menekankan pangan adalah permasalahan hak asasi manusia (HAM) yang paling dasar. Kaum perempuan dari keluarga miskin dipastikan menjadi yang paling menderita sewaktu menghadapi kekurangan pangan.
“Kita harus segera bertindak cepat mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasoka npangan dan pupuk global, harus kembali normal,” ucap Presiden.
Dalam kesempatan ini Jokowi juga meminta para kepala negara anggota G7 untuk ikut serta berinvestasi dalam sektor energi bersih terutama dalam pengembangan mobil listrik dan baterai lithium di tanah air.
Menurutnya, potensi Indonesia sebagai kontributor energi bersih, baik di dalam perut bumi, di darat, maupun di laut, sangat besar. Indonesia, katanya, membutuhkan investasi besar dan teknologi rendah karbon untuk mendukung transisi menuju energi bersih yang cepat dan efektif.
“Indonesia membutuhkan setidaknya 25-30 miliar USD untuk transisi energi delapan tahun ke depan. Transisi ini bisa kita optimalkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi, membuka peluang bisnis, dan membuka lapangan kerja baru,” jelasnya.
Lebih lanjut, presiden juga menyampaikan bahwa di Indonesia dan juga di negara-negara berkembang lainnya, risiko perubahan iklim sangat nyata. Risikonya bukan hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga menyulitkan petani dan nelayan.
“Dukungan semua negara G7 di Presidensi Indonesia di G20 sangat kami harapkan. Sampai bertemu di Bali. Terima kasih,” tuturnya.





