Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, secara resmi meresmikan kembali bangunan bersejarah Gereja Blenduk (GPIB Immanuel) di kawasan Kota Lama Semarang./Dok.Foto Ist.(jurnalterkini.id/Ponco)
Semarang, jurnalterkini.id – Bangunan ikonik dan bersejarah di jantung Kota Lama Semarang, Gereja Blenduk (GPIB Immanuel), resmi kembali dibuka untuk publik setelah proses restorasi menyeluruh yang berlangsung selama setahun. Peresmian dilakukan oleh Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng, pada Minggu, 7 September 2025.
Dengan usia yang telah menginjak 272 tahun, Gereja Blenduk bukan sekadar tempat ibadah. Bagi masyarakat Semarang, bangunan bergaya kolonial Belanda ini telah menjelma menjadi simbol keberagaman, warisan budaya, dan daya tarik wisata sejarah yang tak tergantikan.
“Merupakan anugerah bagi kita semua dapat menyaksikan kembali kemegahan ikon heritage ini. Gereja Blenduk bukan hanya rumah ibadah, tetapi simbol kebanggaan, toleransi, dan keberagaman warga Kota Semarang,” ujar Iswar dalam sambutannya.
Restorasi Menjaga Keaslian
Proyek rehabilitasi Gereja Blenduk dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan alokasi anggaran sebesar Rp28 miliar. Iswar menegaskan bahwa merestorasi bangunan cagar budaya menuntut pendekatan yang berbeda dibanding membangun gedung baru.
“Diperlukan ketelitian tinggi, kehati-hatian, dan kolaborasi lintas sektor. Kita tak hanya membangun ulang fisiknya, tapi juga menjaga ruh sejarahnya,” ujarnya.
Pemerintah Kota Semarang mencatat, proses restorasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip konservasi, mempertahankan struktur asli, dan menggunakan material yang sesuai dengan karakteristik abad ke-18.
Pusat Wisata dan Simbol Kebersamaan
Gereja Blenduk selama ini menjadi landmark utama Kota Lama, kawasan yang terus direvitalisasi oleh pemerintah sejak 2017. Daya tariknya melampaui nilai religius, menjadikannya destinasi utama wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Pasca revitalisasi Kota Lama, jumlah wisatawan meningkat pesat. Bahkan sejak 2019, jumlah kunjungan ke kawasan ini melampaui destinasi ternama seperti Candi Borobudur,” ujar Iswar.
Lebih dari sekadar objek wisata, Iswar menekankan bahwa Gereja Blenduk memiliki peran penting sebagai ruang kebersamaan lintas iman. Selama lebih dari dua abad, gereja ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sosial dan sejarah kota.
“Gereja ini bukan hanya milik umat Kristiani, tapi juga milik seluruh warga Semarang sebagai simbol harmoni dan toleransi,” katanya.
Harapan untuk Masa Depan
Di akhir sambutannya, Iswar mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjaga fisik bangunan, tetapi juga merawat nilai-nilai kebersamaan dan semangat pluralisme yang telah lama hidup di Kota Semarang.
“Mari kita jaga bukan hanya bangunannya, tetapi juga semangat persaudaraan dan toleransi yang terpancar dari setiap sudutnya. Semoga gereja ini senantiasa menjadi simbol harmoni dan kebersamaan bagi Kota Semarang,” pungkasnya.
Dengan peresmian ini, Gereja Blenduk kembali membuka pintunya bagi publik, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai warisan sejarah yang hidup—tempat bertemunya masa lalu, masa kini, dan harapan untuk masa depan.(PH)





