Bertemu Pemimpin Hamas, Jusuf Kalla Serukan Persatuan Kelompok di Palestina

Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla bertemu dengan Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas dalam pertemuan di Doha, Jumat (12/7). (Foto: Courtesy/Jusuf Kalla)
Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla bertemu dengan Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas dalam pertemuan di Doha, Jumat (12/7). (Foto: Courtesy/Jusuf Kalla)

Lawatan Kemanusiaan: Patani, Kabul, Doha

Pertemuan Jusuf Kalla dengan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, merupakan bagian dari perjalanan misi perdamaiannya dari Patani, kota di bagian selatan Thailand; Kabul, ibu kota Afghanistan, dan kini Doha, ibu kota Qatar.

Bacaan Lainnya

Meskipun memiliki misi besar yang sama, yaitu kemanusiaan, masalah yang dibahas JK dengan para pemimpin kelompok militan yang ditemuinya berbeda-beda. Misalnya, saat bertemu Menteri Pertahanan Afghanistan Mullah Mohammad Yaqoob Mujahid awal Juni lalu, JK fokus mendorong pemberdayaan kaum perempuan dan persamaan hak untuk mendapat pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Sementara saat bertemu pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Doha, JK menyerukan kesepahaman antara Hamas dan Fatah, serta upaya gencatan senjata dengan Israel.

Pertemuan Jusuf Kalla dengan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Doha ini hanya berselang tiga bulan dari pertemuannya dengan salah seorang petinggi lain kelompok militan itu, Dr. Bassem Naim di pinggiran Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan 5 Mei lalu Dr. Bassem Naim – yang disebut-sebut sebagai Menteri Kesehatan Palestina di Jalur Gaza – meminta bantuan JK untuk menjembatani perundingan damai antara Hamas dan Israel.

JK Tak Takut Dituduh Radikal

JK menegaskan kepada VOA bahwa ia ingin menjadi mediator yang dapat mengkomunikasikan kepentingan pihak-pihak yang bertikai, yaitu Hamas, Fatah dan bahkan dengan Israel sekalipun. Menurutnya, pembicaraan hanya dapat dilakukan jika ada hubungan dengan semua pihak.

“Dan tidak masalah itu saya berkali-kali dituduh radikal. Orang mengatakan mengapa Bapak bertemu dengan teroris? Saya tanya balik, teroris yang bagaimana? Mereka (Taliban-red) ingin membebaskan negerinya dari pendudukan Amerika. Ini sama saja dengan pejuang-pejuang kemerdekaan kita di tahun 1945 yang dijuluki ekstremis. Ini sebutan-sebutan di era kolonial,” kata JK mengeaskan.

Dia menambahkan bahwa “Hamas berjuang untuk mempertahankan hak-hak warga Palestina.”

Para perunding internasional optimis perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas dapat segera terwujud dalam waktu dekat, seiring langkah Hamas pekan lalu yang mencabut tuntutan utama mereka yaitu komitmen Israel untuk mengakhiri perang. Meskipun demikian Hamas tetap meminta jaminan dari mediator bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan terus merundingkan perjanjian gencatan senjata permanen.

Netanyahu sebelumnya mengatakan ia siap menangguhkan perang sebagai bagian dari perjanjian pembebasan sandera, tetapi baru akan melakukan hal itu jika Israel telah mencapai tujuannya, yaitu menghancurkan militer Hamas dan membawa pulang seluruh sisa sandera. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 412

Pos terkait