Pengamat Militer Khairul Fahmi menilai pengangkatan Letjen Agus Subiyanto sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru sudah tepat. Hal tersebut berdasarkan rekam jejak serta kariernya di dunia militer dan faktor kedekatan dengan Presiden Jokowi.
Namun, ia menyayangkan arahan Presiden Jokowi kepada Agus untuk mengkondusifkan situasi menjelang pemilu ini.
“Kesannya arahan untuk KSAD ini terlalu sepele. Yang kita tahu, TNI tidak berada di garda terdepan dalam penyelenggaraan keamanan pemilu karena itu urusan polisi dan TNI sifatnya hanya membantu Polri dalam kegiatan penyelenggaraan keamanan. Itu sudah berjalan bertahun-tahun dan sudah sistemik,” ungkap Khairul.
Menurutnya, sesuai dengan UU Nomor 34 Tahun 2004 fungsi TNI sebenarnya adalah penangkal setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata baik dari dalam dan luar negeri terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah.
“Hal-hal ini yang harus ditekankan dan dikaitkan dengan peran KSAD sebagai pembina kekuatan, pembina kesiapan operasional sebagai pembantu penglima TNI dalam hal menyusun kebijakan, pengembangan struktur dan strategi di lingkungan TNI AD,” jelasnya.
Selain itu, menurutnya, TNI juga harus bersiap terhadap ancaman di masa depan yang lebih cenderung bersifat non-konvensional.
“Berbaur antara ancaman yang sifatnya miiter dan bersenjata yang relatif dikuasai oleh TNI organik dengan ancaman-ancaman non-konvensional yang bisa dibilang relatif tidak terlalu dikuasai oleh TNI. Ini tantangannya, karena di masa depan peperangan itu tidak murni militer saja,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





