Justru sebagai Presiden G20 merupakan ujian bagi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif di tengah konflik Rusia dengan pihak Barat akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari lalu. Dia menyerukan agar negara lain tidak menekan Indonesia untuk mengundang atau tidak mengundang Putin ke KTT G20.
Presiden Rusia Vladimir Putin saat menghadiri konferensi virtual KTT Pemimpin G20 2020, dari Novo-Ogaryovo di luar Moskow, Rusia, 21 November 2020.
Rezasyah menduga Putin akan meminta sebuah sesi khusus untuk menjelaskan alasannya menginvasi Ukraina dan hal ini yang tidak diinginkan oleh pihak Barat. Karena berita-berita media dunia selama ini tidak seimbang dan lebih memojokkan Rusia.
Putin memilih Indonesia sebagai tempat untuk menjelaskan alasannya menyerbu Ukraina karena, tambahnya, Putin sadar Indonesia adalah negara netral dan suaranya menjadi panutan dunia.
Menurutnya, jangan G20 menjadi ajang untuk menerapkan sanksi atau memboikot karena bisa membuat forum G20 bubar. Kalaupun nanti Amerika dan negara-negara Eropa tidak menghadiri KTT G20, maka itu merupakan risiko Indonesia untuk membuktikan kemandiriannnya dan Indonesia harus berani mengambil risiko tersebut.
Dalam siaran persnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken menyebutkan sejak memerintahkan invasi Rusia ke Ukraina yang tidak beralasan, Putin telah melakukan tindakan kekerasan tanpa henti yang menyebabkan kematian dan kehancuran di seluruh Ukraina.
Dia menambahkan banyak laporan kredibel tentang serangan serampangan dan disengaja oleh Rusia terhadap warga sipil serta kekejaman lainnya.
Blinken mengklaim pasukan Rusia telah menghancurkan gedung apartemen, sekolah, rumah sakit, infrastruktur penting, kendaraan sipil, pusat belanja dan ambulans, menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan cedera.
Dia menegaskan Departemen Luar Negeri Amerika dan pakar pemerintah Amerika lainnya sedang mendokumentasikan dan menilai potensi kejahatan perang di Ukraina. Dia mengumumkan berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, pemerintah Amerika menilai anggota pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang di Ukraina. [*]
Sumber: voaindonesia.com
Baca juga: Di ASEAN, Singapura Negara Pertama akan Berlakukan Sanksi untuk Rusia





