Bathi Moelyono, Tokoh Penyintas Petrus dan Pendiri Fajar Menyingsing, Tutup Usia

SEMARANG, jurnalterkini.id – Bathi Moelyono, Ketua organisasi Fajar Menyingsing sekaligus penyintas operasi Penembakan Misterius (Petrus) pada era 1982–1985, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, Jakarta, pada Kamis (01/05/2025) malam.

Bacaan Lainnya

Jenazah pria yang akrab disapa BM itu kini disemayamkan di rumah duka Jalan Permata Semeru Blok C No. 1A, Semarang.

Semasa hidupnya, BM dikenal luas sebagai tokoh preman berpengaruh di Kota Semarang pada era Orde Baru, sebelum kemudian menjadi pengusaha, aktivis, dan narasumber penting dalam isu-isu pelanggaran HAM masa lalu.

Wartawan senior Beno Siang Pamungkas, yang mengenal dekat BM, “Di WA Mas BM terdapat kalimat yang menurut saya sangat pas menggambarkan prinsip dan perjalanan hidupnya yang penuh warna. Lengkapnya demikian ‘Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, tak akan gamang menghadapi hingar bingar dunia ini. Dia memiliki kekuatan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan apa pun juga, karena dia sudah memiliki kekayaan batin yang tiada tara’. Entah mengapa saya suka sekali dengan kata-katanya tersebut,” tutur Beno Siang Pamungkas yang mengaku mendapat banyak pelajaran hidup dari almarhum” ungkap Beno pada Jumat (02/05/2025).

BM dikenal vokal dalam menyuarakan keadilan atas kejahatan negara, terutama terkait operasi Petrus yang menewaskan ribuan orang tanpa proses hukum. Ia pernah menjadi target operasi tersebut dan harus bersembunyi di lereng Gunung Lawu untuk menyelamatkan diri.

Dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Orba dan Praktik Extra-Judicial Killing: Suara Penyintas Penembakan Misterius 1982–1985” yang digelar oleh Klinik Hukum dan Advokasi HAM Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 23 September 2021, BM secara terbuka memberikan kesaksiannya.

Ia menyebut operasi Petrus sebagai tindakan sistematis negara.
“Saya berani katakan, Soeharto sangat menikmati pembunuhan itu. Tiap pagi dia membaca koran sambil minum kopi, melihat jumlah korban yang diberitakan,” ucapnya saat itu.

BM juga menekankan bahwa banyak korban Petrus bukanlah preman atau residivis. “Ada mantan tahanan politik, agen koran, bahkan anak pendeta yang ikut menjadi korban. Mayat-mayat ditemukan di jalan, sawah, sungai, bahkan dalam karung,” tuturnya.

Meski pernah menaruh harapan terhadap upaya penyelesaian kasus oleh pemerintah, BM akhirnya kecewa karena proses yang berjalan hanya berfokus pada korban, bukan pada pelaku.

“Saya sudah tidak peduli apakah kasus ini mau dibuka atau tidak,” katanya tegas.

Dalam berbagai kesempatan, BM juga tak lupa memberi penghormatan kepada para aktivis HAM, seperti HJC Princen, yang menurutnya berjasa besar dalam mengungkap praktik kekerasan negara di era Orde Baru.(PH)

Pos terkait