800.000 Lulusan SMA Berebut Kursi Perguruan Tinggi Negeri

Ada 803.853 lulusan sekolah menengah yang mengikuti SNBT 2023 di 74 lokasi ujian di seluruh Indonesia. (Foto: Humas UGM)
Ada 803.853 lulusan sekolah menengah yang mengikuti SNBT 2023 di 74 lokasi ujian di seluruh Indonesia. (Foto: Humas UGM)

Model Soal Berbeda

Ketua Umum Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Prof. Mochamad Ashari mengatakan materi tes tahun ini berbeda dari tahun lalu.

“Materi yang dikerjakan oleh anak-anak kita itu TPS, tes potensi skolastik. Kemudian ada literasi bahasa Indonesia, literasi dalam bahasa Inggris, dan penalaran matematika,” kata Ashari, dalam konferensi pers di kampus Universitas Padjajaran, Bandung, yang menjadi pusat pemantauan kegiatan SNBT 2023.

Bacaan Lainnya

Kemendikbudristek memang menerapkan pola baru dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri melalui tes nasional ini. Meski siswa mempelajari mata pelajaran seperti matematika, fisika, biologi, ekonomi atau sejarah di kelas selama sekolah, namun untuk masuk perguruan tinggi negeri, materi ujian diganti seperti dijelaskan Ashari di atas.

Ashari, yang juga Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya ini merinci, tes skolastik, menekankan pada pengukuran kemampuan kognitif yang dianggap penting bagi keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi. Kemampuan kognitif adalah kemampuan manusia sejak lahir, berupa kemampuan logika dan bernalar. Tes skolastik tidak mengujikan kemampuan hafalan dan akademik.

“Melalui tes ini, kita bisa mendeteksi apakah anak-anak itu punya potensi kognitifinya bagus. Logikanya kalau bagus dia akan mampu dalam situasi apa pun,” tambah Ashari.

Pelaksana Tugas Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbudristek, Profesor Tjitjik Sri Tjahjandarie, menyebut model tes ini adalah konsekuensi dari penerapan Kurikulum Merdeka.

“Di dalam proses seleksi nasional berbasis tes ini, di tahun ini kita memang mengupayakan materi untuk betul-betul tidak didasarkan hanya pada kemampuan keilmuan siswa, tetapi lebih pada potensi yang dimiliki oleh calon mahasiswa atau peserta,” kata Tjitjik.

Tes ini digunakan untuk mengukur keberhasilan calon mahasiswa mengambil berbagai mata kuliah hingga menyelesaikan studinya.

“Kalau sekadar pintar hapalan, begitu diarahkan ke tantangan keilmuan yang kompleks, dia belum tentu bisa survive. Tes potensi skolastik mengukur kemampuan penalaran dan analisis. Kalau tinggi diharapkan dia dapat menyelesaikan studinya dengan baik,” tambah Tjitjik.

Tes literasi ditekankan pada pemahaman siswa terkait bahasa dan kemampuan menarasikan pikirannya. Sedangkan matematika mengujikan sejauh mana kemampuan penalaran siswa di bidang matematika yang direpresentasikan melalui penalaran dasar.

“Kami menjamin obyektivitas dan akuntabilitas,” tegas Tjitjik.

Di Yogyakarta, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arie Sujito juga menegaskan komitmen untuk memfasilitasi seluruh peserta secara baik. UGM juga berkomitmen menjunjung integritas dengan mengantisipasi adanya tindakan kecurangan dalam pelaksanaan ujian.

“Jadi, kita mengupayakan langkah untuk mendeteksi kecurangan melalui pemeriksaan pada seluruh peserta sebelum memasuki ruang ujian. Hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan di awal bahwa ujian diselenggarakan secara profesional,” kata Arie.

Pos terkait