Warga Binaan Lapas Suliki Latih Tari Galombang: Lestarikan Budaya, Bentuk Karakter di Balik Jeruji

WBP di Lapas Suliki saat berlatih Tari Galombang (Foto: Lapas Suliki)
WBP di Lapas Suliki saat berlatih Tari Galombang (Foto: Lapas Suliki)

SULIKI, Jurnalterkini.id — Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Suliki menghadirkan warna baru dalam pembinaan kepribadian warga binaan melalui latihan rutin Tari Galombang, kesenian tradisional Minangkabau yang sarat makna kebersamaan, penghormatan, dan sopan santun.

Kegiatan ini bukan sekadar berkesenian, melainkan jalan menumbuhkan disiplin, rasa percaya diri, serta cinta budaya daerah.

Bacaan Lainnya

Tari Galombang dikenal sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan, yang mengutamakan kekompakan gerakan dan keramahan. Warga binaan mempelajari setiap gerakan secara bertahap mulai dari sikap tubuh, keselarasan langkah, hingga penghayatan dan mengulanginya hingga serempak. Dalam proses itu, mereka tidak hanya melatih fisik, tetapi juga menanamkan nilai kerja sama, tanggung jawab, serta saling menghargai.

“Setiap orang punya peran. Keberhasilan penampilan tidak bergantung pada satu orang saja, melainkan pada kemampuan semua untuk bergerak bersama,” ungkap semangat yang tumbuh di antara para peserta.

Bagi warga binaan, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi dan harapan di tengah keterbatasan. Di balik jeruji, mereka tetap bisa berkarya, melestarikan warisan leluhur, serta memahami makna mendalam: menghormati orang lain, hidup berdampingan, dan menjaga kebersamaan nilai-nilai yang juga menjadi bekal berharga saat kembali ke masyarakat.

Pembinaan ini sejalan dengan komitmen Lapas Suliki menghadirkan pendekatan yang lebih humanis. Melalui seni budaya, warga binaan diajak membangun karakter, menemukan potensi diri, dan menyadari bahwa perubahan itu dimulai dari disiplin, kesabaran, serta dukungan sesama.

Ke depannya, Tari Galombang diharapkan bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga tampil dalam acara resmi untuk menjadi bukti bahwa warga binaan ikut menjaga warisan budaya Minangkabau.

Lebih dari itu, ini pesan bahwa masa pembinaan adalah masa memperbaiki diri, menggali harapan, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik bagi keluarga dan lingkungan.

Dari balik jeruji, budaya tetap hidup. Dari setiap gerakan, tumbuh kebersamaan. Dan dari proses belajar, lahir harapan baru.

Pos terkait