PADANG, Jurnalterkini.id – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan pentingnya memperkokoh pemahaman fikih wasathiyah (moderat) sebagai landasan menjaga persatuan umat sekaligus merespons berbagai dinamika keagamaan di era kini. Pemahaman agama yang moderat, berargumen kuat, dan berorientasi pada kemaslahatan menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan masyarakat yang terus bergerak cepat.
Hal tersebut disampaikan saat membuka Nadwah Fiqhiyyah Internasional bersama ulama dan pakar syariah asal Suriah, Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm, yang diselenggarakan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Sumbar di Aula Kantor Gubernur. Forum bertema “Prinsip-prinsip Metodologis dalam Pemanfaatan Pendapat Fuqaha pada Isu-Isu Fikih Kontemporer” diikuti sekitar 100 peserta dari kalangan dai, dosen, guru pesantren, dan praktisi keislaman se-Sumatera Barat.
Mahyeldi mengingatkan ajaran agama harus disampaikan dengan nuansa yang menyejukkan, menumbuhkan ketenangan, serta memperkuat persaudaraan. Sementara kajian mendalam yang bersifat teknis menjadi ranah para ulama untuk memperkaya khazanah keilmuan Islam.
“Umat butuh pemahaman yang membawa kedamaian dan persatuan. Hal ini juga ditekankan langsung oleh Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm,” ujarnya.
Kehadiran ulama asal Suriah dinilai momen berharga mempererat tradisi dialog ilmiah. Suriah memiliki kedekatan sejarah keilmuan dengan Indonesia, terutama karena mayoritas umatnya juga merujuk pada mazhab Syafi’i. “Suriah menyimpan warisan peradaban Islam yang luar biasa, jejak sahabat dan ulama besar yang bisa menjadi inspirasi bagi kita,” tambahnya.
Gubernur berharap IKADI Sumbar terus menjadi garda pencerahan dan menegaskan perlunya fikih wasathiyah yang tetap teguh pada prinsip syariat namun luwes merespons isu zaman. “Isu-isu yang muncul butuh jawaban berbasis metodologi fikih yang kuat, argumentatif, dan mengutamakan kemaslahatan. Forum semacam ini penting membekali para dai dan akademisi,” tegasnya.
Ia juga menekankan pembangunan karakter berbasis agama harus berjalan beriringan dengan pendidikan, ketahanan pangan, energi, dan ketahanan nasional sebagai persiapan menuju Indonesia Emas 2045.
Anggota DPR RI Rahmat Saleh turut menyambut baik kegiatan ini dan berkomitmen mendukung keberlanjutannya lewat agenda reses. Sementara Wakil Ketua IKADI Sumbar Muhammad Rido mengapresiasi perhatian penuh Gubernur yang menjadikan penguatan ilmu syariah sebagai bagian penting pembangunan daerah.
Ketua Panitia Dr. Defrinal, MA, menjelaskan peserta dibatasi agar diskusi berjalan efektif. Selama lebih dari tujuh jam, peserta mendalami metodologi fikih kontemporer langsung dalam bahasa Arab oleh narasumber utama.
Melalui kegiatan ini, Pemprov Sumbar bersama IKADI berharap lahir semakin banyak dai dan akademisi yang tidak hanya menguasai ilmu syariah secara mendalam, tetapi juga mampu menghadirkan dakwah yang menyejukkan, relevan dengan zaman, dan menjadi perekat persatuan umat. (Dion).





