Ekonom Pertanyakan Strategi Prabowo
Ekonom Indef Tauhid Ahmad mempertanyakan strategi apa yang akan dilakukan oleh Prabowo ke depan, karena jika dilihat dari berbagai sisi, akan cukup sulit mencapai pertumbuhan ekonomi delapan persen dalam kurun waktu lima tahun.
Dari sisi eksternal, kata Tauhid, dengan kondisi geopolitik akan cukup sulit, karena inflasi global yang stagnan dalam beberapa waktu terakhir. Apalagi inflasi di sebagian besar negara-negara berkembang tetap berada di atas 10 persen. Hal ini akan berdampak pada kebijakan suku bunga tinggi, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak bisa terdongkrak tinggi.
“Artinya dari sisi itu saja, tidak ada bisa meningkat pertumbuhan ekspor impor. Bahkan kemarin, sekitar 1-2 persen saja pertumbuhannya. Kalau dia ingin kontribusinya lebih besar lagi maka faktor global harus lebih besar. Masalahnya faktor global kita tidak bisa ubah,” ungkap Tauhid ketika berbincang dengan VOA.
Sementara dari sisi konsumsi masyarakat – yang juga merupakan faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi tanah air – juga sangat bergantung pada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Untuk meningkatkan daya beli mereka, perlu ada peningkatan pendapatan, suatu instrument yang juga bergantung pada peningkatan upah, yang juga maksimal rata-rata hanya mencapai lima persen.
“Sehingga kalau ingin mendorong katakanlah sampai delapan persen, kenaikannya upahnya saja tidak sampai delapan persen, bagaimana bisa mendorong daya beli karena inflasinya cenderung rendah. Apalagi kalau inflasi tinggi, itu akan menggerus daya beli,” tambahnya.
Sedangkan, katanya, jika dilihat dari sisi sektor industri – yang dalam hal ini adalah hilirisasi atau industrialisasi – juga dinilai cukup sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi delapan persen, karena pertumbuhan sektor ini hanya empat persen.





