Pemerintah Indonesia mengutuk sekeras-kerasnya serangan Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza yang menewaskan sejumlah warga sipil. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan hal tersebut pada Senin (20/11/2023) sore dari Beijing, Tiongkok.
Retno sedang melangsungkan pertemuan dengan beberapa menteri luar negeri untuk menggalang dukungan penghentian aksi kekerasan di Gaza.
Dalam siaran pers virtual, Retno menegaskan “serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional.” Ia mendesak semua negara, “terutama yang memiliki hubungan dekat dengan Israel, menggunakan segala pengaruh dan kemampuannya untuk mendesak Israel menghentikan kekejamannya.”
MER-C Konfirmasi Serangan Israel, Sedikitnya 8 Tewas, 2 Luka Kritis
Sebelumnya pada Senin pagi, MER-C, yang mengelola kebutuhan dan pelayanan medis Rumah Sakit Indonesia di Gaza, membenarkan serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan itu. Dalam siaran langsung MER-C di platform media sosial Instagram dan X – yang dulu dikenal sebagai Twitter – Manajer Pembangunan RSI di Gaza Nur Ikhwan Abadi menunjukkan siaran langsung Al Jazeera yang sedang memperlihatkan situasi di Rumah Sakit Indonesia yang masih terus diserang Israel.
“Ini tepat berada di depan RS Indonesia, hanya sekitar 50 meter dari pintu rumah sakit. Lihat ini tank-tank Israel yang melakukan serangan ke arah rumah sakit dan mengenai lantai tiga RS Indonesia, tepat di ruangan di mana ada beberapa pasien sedang dirawat,” ujar Nur Ikhwan saat menjelaskan video yang dirilis stasiun televisi Qatar itu.
“Sejauh ini korban tewas mencapai delapan orang, dua dokter luka-luka. Ini salah seorang syuhada yang diserang ketika sedang dirawat. Ia syahid. Ia belum dapat dievakuasi,” tambahnya, seraya memaparkan bahwa pasien yang ada di lantai empat dan lantai tiga saat ini dievakuasi ke lantai dasar.
Beberapa kali Nur Ikhwan menegaskan bahwa pihaknya masih belum dapat menghubungi langsung mereka yang berada di RS Indonesia. “Upaya mengontak RS Indonesia sejak dua jam lalu, masih belum berhasil,” ujarnya. Ditambahkannya, hingga saat ini belum mengetahui nasib tiga warga negara Indonesia – Farid, Fikri dan Reza – yang memang sudah tidak dapat dikontak lagi sejak satu minggu lalu.





