Tantangan Transfer Teknologi
Koordinator Program Studi Indonesia di ISEAS Yusof Ishak Institute, Siwage Dharma Negara mengatakan, kemampuan Teknologi Tiongkok masih di bawah sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Hal tersebut terlihat dari Global Competitiveness Report Special Edition 2020 yang diterbitkan World Economic Forum.
Namun, Siwage juga menjelaskan bahwa sejumlah teknologi Tiongkok lebih unggul dibandingkan dengan negara-negara lain, antara lain teknologi energi dan pengembangan materi.
“Bekerja sama dengan Tiongkok merupakan satu potensi, kita bisa belajar dari Tiongkok untuk teknologi tertentu dan kita bisa beradaptasi, belajar menguasai teknologi tersebut,” jelas Siwage.
Siwage menambahkan belanja riset untuk ilmu pengetahuan dan teknologi Tiongkok sekitar 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Persentase tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Korea Selatan (5 persen), AS (3 persen), dan Jepang (3 persen). Namun, kata Siwage, belanja riset Tiongkok mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Siwage juga menyoroti sejumlah tantangan yang menjadi kendala dalam transfer teknologi. Sebagai contoh di proyek kereta cepat Jakarta Bandung, masih terdapat persoalan penguasaan bahasa Tiongkok dari tenaga kerja lokal. Selain itu, kesepakatan alih teknologi pada level atas tidak serta merta diproses pada level bawah.
“Posisi Indonesia, anggaran riset kita masih di bawah 1 persen dari PDB. Jadi perlu banyak investasi sehingga kita bisa mengejar ketertinggalan kita di bidang riset dan teknologi,” tambahnya.
Wage menyarankan pemerintah untuk mengevaluasi proses transfer teknologi dalam kerja sama Indonesia dengan negara lain yang sedang berlangsung kini untuk menjadi bahan perbaikan mendatang. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





