Hamas Pertimbangkan Gencatan Senjata Terbaru dengan ‘Semangat Positif’

Warga Palestina memeriksa kerusakan pasca pengeboman Israel di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 3 Mei 2024, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas. (Foto: AFP)
Warga Palestina memeriksa kerusakan pasca pengeboman Israel di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 3 Mei 2024, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas. (Foto: AFP)

Satu-satunya isu yang berhasil diselesaikan para mediator gencatan senjata sejauh ini adalah kesepakatan selama sepekan pada November lalu. Ketika itu 105 sandera dibebaskan dengan imbalan pembebasan 240 orang Palestina yang dipenjara oleh Israel.

Israel memperkirakan masih ada 129 sandera yang ditawan di Gaza. Pihak militer mengatakan 35 di antara mereka telah tewas, termasuk Dror Or yang berusia 49 tahun.

Bacaan Lainnya

Pemerintah mengukuhkan kematian Or pada Jumat pagi. Dua anaknya yang juga disandera telah dibebaskan dalam gencatan senjata November.

Hamas dan Israel telah berselisih selama berbulan-bulan mengenai ketentuan dalam kesepakatan gencatan senjata yang baru.

Kelompok militan itu menuntut gencatan senjata permanen untuk mengakhiri perang dan penarikan pasukan, namun Israel menolaknya.

Sementara Israel menghadapi demonstrasi-demonstrasi yang menuntut pemerintah untuk segera membebaskan sandera yang tersisa.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertekad akan melanjutkan pertempuran. Dengan atau tanpa gencatan senjata, katanya, ia akan mengirim pasukan darat ke Rafah, terlepas dari kekhawatiran global mengenai nasib sekitar 1,5 juta warga sipil yang berlindung di sana.

Tawaran gencatan senjata yang sedang dipertimbangkan ini mencakup penghentian pertempuran selama 40 hari dan pertukaran warga Israel yang disandera dengan kemungkinan ribuan orang Palestina yang dipenjara. Demikian menurut rincian yang dirilis Inggris. [voa]

Jaringan: VOA

Pos terkait